Melihat Diri Sendiri pada Anakku: Tentang Sepeda dan Kasih Sayang yang Dulu Tak Kami Punya
PURJIANTO - Bunyi "klontang" kunci inggris yang beradu dengan besi tua itu kini jadi musik latar sehari-hari di rumah kami.
Anak bujangku sudah beranjak remaja. Rasa ingin tahunya meledak-ledak, persis seperti kembang api. Dan sasaran utamanya saat ini? Sepeda BMX kesayangannya.
Rasanya tak ada hari tanpa "operasi bedah" sepeda. Mau tidur, sampai dia terbangun lagi, sepeda itu yang dicari. Mulai dari dipreteli satu per satu bautnya, hingga dimodifikasi jadi bentuk yang jujur saja kadang bikin saya geleng-geleng kepala. Tapi herannya, sepeda hasil "karangan" tangannya itu justru jadi incaran teman-teman sebayanya. Mungkin karena unik, atau mungkin karena mereka melihat passion yang tumpah-ruah di sana.
Bayangkan saja, sehari dia bisa bongkar pasang ban sampai 5 atau 6 kali! Belum bagian yang lainnya. Tangannya kotor oli, keringat bercucuran, tapi matanya berbinar.
Namun, namanya masa remaja, tak selamanya isinya tawa di bengkel teras rumah.
Pernah suatu sore, dia pulang dengan mata sembap. Nangis sesenggukan. Hati orang tua mana yang tidak patah melihat jagoannya menangis? Ternyata, sepedanya dirusak oleh kakak kelasnya di sekolah. Ada rasa marah yang sempat naik ke ubun-ubun saya. Ingin rasanya mendatangi sekolah saat itu juga.
Tapi kemudian, saya dan istri saling berpandangan. Kami menatapnya yang sedang meluapkan emosi, mengadu pada kami, orang tuanya. Dan anehnya, di sela-sela menenangkannya, terselip senyum tipis di bibir kami.
Bukan, kami bukan senang dia sedih. Kami tersenyum karena menyadari satu hal, Dia punya tempat pulang.
Melihatnya tumbuh dengan segala dinamikanya, mengingatkan kami pada masa kecil kami sendiri. Saya dan istri mungkin berasal dari latar belakang finansial yang berbeda, tapi kami punya satu kesamaan yang pahit, kami sama-sama tumbuh "haus" kasih sayang.
Dulu, jangankan mengadu saat mainan dirusak orang, sekadar ingin bercerita tentang hari kami saja rasanya sulit. Kebahagiaan sederhana berupa kedekatan fisik dan emosional dengan orang tua adalah barang mewah yang hampir tidak pernah kami cicipi. Kami tumbuh sendirian di tengah keramaian rumah masing-masing.
Kini, saat melihat anak kami sibuk dengan BMX-nya, atau saat dia lari memeluk kami ketika sedih, rasanya seperti sedang mengobati luka lama.
Kami membiarkannya membongkar sepedanya ratusan kali, bukan karena kami memanjakannya, tapi karena kami ingin dia tahu bahwa minatnya didukung. Kami memeluknya erat saat dia di-bully, karena kami ingin dia tahu bahwa dia tidak sendirian menghadapi dunia.
Sepeda BMX yang seringkali berantakan itu lebih dari sekadar mainan. Itu adalah simbol bahwa di rumah ini, dia boleh menjadi dirinya sendiri. Sesuatu yang dulu, sangat ingin kami rasakan.
Nak, teruslah berkarya dengan sepedamu. Ayah dan Ibu ada di sini, menebus masa lalu kami, dengan mencintaimu sepenuh hati.
Tidak ada komentar untuk "Melihat Diri Sendiri pada Anakku: Tentang Sepeda dan Kasih Sayang yang Dulu Tak Kami Punya"
Posting Komentar