Dari Sangatta ke Sanga-Sanga, Menjemput Haul Guru, Merawat Persaudaraan
Dari Sangatta ke Sanga-Sanga, Menjemput Haul Guru, Merawat Persaudaraan
PURJIANTO.MY.ID - Tidak semua perjalanan lahir dari rencana besar. Ada yang bermula dari sebuah niat sederhana memenuhi panggilan hati untuk menghadiri haul seorang guru yang telah meninggalkan jejak ilmu dan akhlak bagi banyak orang. Namun, perjalanan itu kemudian menjelma menjadi cerita panjang tentang persahabatan, kebersamaan, dan rasa syukur yang tak mudah dilupakan.
Jumat pagi, pukul 10.00 Wita, tiga mobil perlahan meninggalkan Kota Sangatta. Di dalamnya ada tiga belas orang dengan latar belakang yang berbeda-beda. Ada yang bergelut di dunia usaha, ada yang bekerja sebagai pegawai, ada pula yang kesehariannya mengabdikan diri di bidang lain. Perbedaan profesi, usia, dan pengalaman hidup tak pernah menjadi sekat. Justru di sanalah cerita-cerita itu menemukan warna.
Tujuan kami sama menuju Sanga-Sanga untuk menghadiri Haul ke-13 Tuan Guru kami, Syekh KH Muhammad Saman Al Banjari.
Perjalanan dimulai dengan penuh semangat. Handy talkie menjadi alat komunikasi yang hampir tak pernah berhenti berbunyi. Sesekali digunakan untuk memberi informasi kondisi jalan, namun lebih sering dipenuhi canda yang membuat suasana di dalam mobil pecah oleh tawa.
“Kijang hitam di belakang kijang putih, ada R2 mendekat dari sisi kanan,”
Layaknya protokol yang mengawal pejabat kami berkomunikasi antar radio.
Candaan-candaan sederhana seperti itu justru menjadi perekat perjalanan. Tidak ada yang merasa lebih penting. Semua larut menjadi satu rombongan yang saling menjaga.
Jalur pesisir menuju Bontang menyuguhkan panorama yang seolah menjadi hadiah dari Sang Pencipta. Hamparan laut membiru membentang di sisi jalan. Angin pantai berembus lembut, membawa aroma asin laut yang menenangkan. Sesekali pepohonan kelapa bergoyang perlahan, seakan ikut menyambut para musafir yang sedang menempuh perjalanan mencari keberkahan.
Tak ada restoran mewah yang kami cari, bekal dari rumah justru menjadi hidangan paling istimewa.
Di sebuah tepian pantai yang teduh, kami menggelar tikar sederhana. Kotak-kotak makanan mulai dibuka. Ada nasi hangat, sambal urap, lauk dadar jagung, ikan layang goreng tepung, semuanya dimasak dengan penuh kasih oleh Yu Tun sebelum keberangkatan, tidak memakai piring yang ada daun pisang kami jadikan alas makan.
Tak ada menu bintang lima, Namun, ketika disantap bersama orang-orang yang saling menghargai, makanan sederhana itu terasa begitu nikmat.
Angin pantai yang sepoi-sepoi menjadi pendingin alami. Debur ombak menjadi musik pengiring makan siang. Lalu secangkir kopi menutup kebersamaan siang itu. Di atas gelas-gelas kopi itulah cerita kembali mengalir tanpa batas.
Obrolan kami melompat dari satu topik ke topik lain, tentang bisnis, tentang keluarga, tentang masa muda yang penuh kenakalan, tentang kegagalan yang pernah membuat kami jatuh, tentang keberhasilan yang ternyata tak pernah datang secara instan.
Tak ada pembicaraan yang dibuat-buat. Semua mengalir apa adanya. Mungkin karena perjalanan panjang memang selalu mampu membuka ruang bagi orang-orang untuk saling mengenal lebih dalam.
Sepanjang perjalanan menuju Sanga-Sanga, kendaraan melaju tenang. Jalanan yang landai membelah perkampungan, sesekali melewati hamparan sawah hijau yang luas. Anak-anak terlihat bermain di halaman rumah, petani masih sibuk di pematang, sementara langit Kalimantan tampak begitu lapang.
Tidak ada yang terburu-buru, kami sadar bahwa tujuan perjalanan ini bukan sekadar sampai di tempat tujuan, melainkan menikmati setiap kilometer yang dilewati.
Menjelang sore, rombongan akhirnya tiba di Sanga-Sanga. Kami langsung menuju rumah Mas Topa, yang dengan hangat membuka pintunya sebagai tempat singgah. Setelah membersihkan diri dan beristirahat sejenak, kami bersiap menuju majelis haul.
Suasana haul begitu khidmat, jamaah memadati lokasi. Wajah-wajah penuh harap datang dari berbagai daerah. Semua memiliki tujuan yang sama mengenang seorang ulama yang semasa hidupnya mendedikasikan ilmu untuk umat.
Sejumlah ulama besar turut hadir, di antaranya Abuya Arazi Hasyim, Guru Udin, serta para habaib dan masyayikh lainnya. Dari mimbar sederhana itu, tausiah demi tausiah disampaikan dengan penuh kelembutan.
Tentang pentingnya menjaga adab, tentang keikhlasan, tentang menghormati guru, tentang ilmu yang tidak akan membawa keberkahan tanpa akhlak.
Kami mendengarkan dengan penuh perhatian. Kalimat demi kalimat terasa bukan sekadar nasihat, tetapi bekal untuk menjalani kehidupan sehari-hari yang semakin penuh tantangan.
Haul bukan hanya mengenang seseorang yang telah wafat.
Haul adalah cara menjaga mata rantai ilmu agar tetap hidup dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Ketika acara usai, rombongan tidak langsung pulang.
Tanpa diminta, kami ikut membantu membersihkan lokasi acara. Mengangkat kursi, melipat tikar, mengumpulkan sampah, hingga memastikan area kembali rapi. Mungkin pekerjaan itu terlihat sederhana, tetapi di situlah kami belajar bahwa menghormati majelis bukan hanya dengan duduk mendengarkan, melainkan juga ikut menjaga kebersihannya.
Sebelum meninggalkan lokasi, tentu ada satu agenda yang tak pernah terlupakan.
Foto bersama.
Bukan sekadar untuk diunggah ke media sosial, melainkan sebagai penanda bahwa kami pernah berada di tempat penuh keberkahan itu, bersama orang-orang yang sama-sama ingin memperbaiki diri.
Malam kembali kami habiskan di rumah Mas Topa, tiga belas orang tidur berjajar dalam satu rumah tak perlu kasur empuk tak perlu kamar berpendingin udara.
Yang ada hanyalah kelelahan setelah perjalanan panjang.
Tak lama kemudian, suara dengkuran mulai bersahut-sahutan, ada yang pelan, ada yang keras dan ada yang ritmenya seperti sedang berlomba.
Malam itu rumah Mas Topa berubah menjadi “orkestra” paling lucu yang pernah kami dengar.
Pagi harinya, suara dengkuran semalam justru menjadi bahan candaan pertama saat semua terbangun.
“Ternyata semalam bukan tidur, tapi konser.”
Gelak tawa kembali memenuhi rumah.
Setelah mandi dan bersiap, Mbak Asnah bersama putrinya, Lia, menyiapkan sarapan nasi goreng hangat. Aroma bawang dan telur yang baru diangkat dari wajan membuat rasa lapar seketika datang. Sarapan sederhana itu terasa begitu istimewa karena disajikan dengan ketulusan.
Pukul 09.45 Wita, kami berpamitan dan memulai perjalanan pulang menuju Sangatta.
Di perjalanan, rombongan beberapa kali berhenti. Ada yang membeli roti sebagai oleh-oleh untuk keluarga di rumah. Ada pula yang tergoda membeli kepiting segar di kawasan pesisir Muara Badak.
Sesekali kami kembali menikmati secangkir kopi di pinggir sawah. Duduk di warung sederhana, memandang hamparan padi yang bergoyang diterpa angin, membuat rasa lelah perlahan menghilang.
Perjalanan panjang memang menguras tenaga.
Namun, setiap persinggahan selalu menghadirkan cerita baru.
Semakin sore, suasana mobil mulai hening. Sebagian penumpang tertidur pulas setelah dua hari penuh aktivitas. Candaan yang sejak kemarin tak pernah berhenti akhirnya berganti dengan suara napas orang-orang yang kelelahan.
Di balik kemudi, saya tetap terjaga fokus menatap jalan karena ada amanah yang harus dijaga ada orang yang ingin kembali bertemu keluarganya dengan selamat.
Mata boleh lelah punggung boleh pegal. Namun, keselamatan tetap menjadi tujuan utama.
Akhirnya, tepat pukul 19.24 Wita, kami kembali memasuki Sangatta.
Perjalanan sekitar dua hari itu mungkin hanya tercatat sebagai beberapa ratus kilometer di odometer kendaraan. Namun, bagi kami, jaraknya jauh lebih panjang dari sekadar hitungan angka.
Kami pulang membawa banyak hal.
Membawa ilmu dari para ulama.
Membawa kenangan tentang makan bersama di tepi pantai.
Membawa tawa karena suara dengkuran yang saling bersahutan.
Membawa persahabatan yang terasa semakin erat.
Dan yang paling penting, kami pulang dengan keyakinan bahwa perjalanan terbaik bukanlah perjalanan menuju tempat yang jauh, melainkan perjalanan yang mampu mendekatkan hati kepada Allah, kepada guru-guru yang telah membimbing, serta kepada sesama sahabat yang saling menjaga.
Sebab pada akhirnya, bukan hanya tujuan yang akan dikenang.
Melainkan setiap cerita yang lahir di sepanjang jalan.